Friday, September 18, 2015

Introvert yang Memberontak




"Hen, kamu pilih mana. Lembur sampai jam 11 malam atau pergi meeting dengan klien?"

Seandainya pertanyaan di atas dilontarkan 8 tahun yang lalu, saya pasti memilih untuk lembur. Tetapi kalau dilontarkan detik ini juga, dengan mantap saya akan memilih meeting dengan klien.

Kenapa bisa begitu?

Aku adalah seorang introvert yang cenderung ekstrim. Jejak hidupku menceritakan hal tersebut. Waktu SMA aku mengambil jurusan A1 (Fisika) yang notebene banyak hitungan. Masuk kuliah, aku ambil komputer. Pekerjaan pertama? Tidak jauh-jauh. Dengan alasan idealis, aku menekuni pekerjaan yang berhubungan dengan komputer seperti programming, system, trouble shooter, dll. Bisa dikatakan, aku sangat menikmati percumbuanku dengan 'mesin'.

Keseharianku juga mengisahkan hal yang sama. Aku lebih suka mengurung diri di kamar dari pada berha-hi-ha-hi dengan banyak orang. Ketika diajak untuk ikut kegiatan-kegiatan yang mengharuskan aku berinteraksi dengan banyak orang, aku cenderung menolak. Aku aman sekali dan merasa 'hidup' kalau sudah mengurung diri di kamar sambil membaca, merenung, otak-atik games, dkk.

Jadi tidak heran saat aku diberi dua pilihan antara lembur dan meeting, aku akan memilih lembur?

Terus bagaimana ceritanya kalau sekarang aku bisa lebih memilih ketemu orang? Kuncinya satu: adaptasi.

Sering aku saksikan kepada orang bahwa aku termasuk beruntung bergabung sebagai orang IT di perusahaan jasa pelatihan (training provider). Tugasku di sana selain merapikan sistem, aku juga mendapat mandat untuk mengembangkan materi pelatihan (research and development). Karena tugas itu, mau gak mau aku harus sering mampir di kelas-kelas pelatihan kalau-kalau ada development yang bisa dilakukan untuk materi pelatihan yang dibawakan.

Awal ketika diminta untuk hadir di kelas, bisa ditebak. Sepanjang hari aku mencari aman dengan berlindung di balik laptop, di kursi paling pojok belakang. Kalau tidak ada keperluan yang mendesak -panggilan alam ke toilet- aku tidak akan beranjak. Menyapa orang? boro-boro. Nikmati snack waktu coffee break pun dilakukan secara senyap.

Lama kelamaan seiring berjalannya waktu, aku mencoba keluar dari sangkar amanku. Aku pun mulai membuka diri, belajar menyapa orang, mengajak bicara, ikut dalam diskusi. Aha! Aku merasa pengalaman yang berbeda. Mataku dibukakan bahwa berkomunikasi dengan orang lebih asyik dari pada memacari mesin. Sejak itu aku pun MEMUTUSKAN untuk belajar berkomunikasi dengan orang. (Prosesnya mirip dengan konsep Learn, unlearn, relearn--baca di http://www.kompasiana.com/hendribun/belajar-berenang-saat-kepala-3-it-s-possible_55f7dd96d29273d707600b42).

Ala bisa karena biasa. Pepatah itu terjadi bagiku. Seiring waktu aku pun berhasil keluar dari tempurung introvertku. Jadilah diriku seperti sekarang ini. Pribadi yang dikenal orang lain mudah dalam bersosialisasi.

Kalau ditanya, apakah aku meninggalkan kecenderunganku yang introvert? Jawabannya TIDAK. Aku tetap seorang introvert. Bedanya adalah sekarang aku bisa (kalau tidak mau bilang cerdas) menempatkan diriku sesuai dengan peran. Kalau aku ada dalam suasana dan kondisi yang menuntutku untuk memainkan peran ektrovert, aku bisa. Tetapi kalau harus re-charge energiku, aku adalah introvert.

* * *

Istilah introvert-ekstrovert dekat sekali dengan MBTI. Singkatan dari Myers-Briggs Type Indicator, MBTI adalah alat tes yang dirancang untuk mengukur preferensi psikologis seseorang dalam melihat dunia dan membuat keputusan. Dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya Isabel Briggs Myers pada sejak 1940, alat ini dirancang untuk mengukur kecerdasan individu, bakat, dan tipe kepribadian seseorang. MBTI merupakan instrumen yang paling banyak digunakan, telah diperbarui dan divalidasi secara ketat selama lebih dari tujuh puluh tahun. Yang unik, MBTI adalah salah satu alat tes yang bisa dipakai oleh orang non-psikologi.

Dalam tes MBTI, ada 4 dimensi kecenderungan sifat dasar manusia yang diukur.
(1) Dimensi pemusatan perhatian (sumber energi): Introvert (I) vs. Ekstrovert (E)
(2) Dimensi memahami informasi dari luar : Sensing (S) vs. Intuition (N)
(3) Dimensi menarik kesimpulan dan keputusan : Thinking (T) vs. Feeling (F)
(4) Dimensi pola hidup : Judging (J) vs. Perceiving (P)
Hasil dari tes MBTI adalah 16 tipe kepribadian manusia yang merupakan kombinasi dari 4 dimensi di atas.

(untuk mengeksplorasi MBTI lebih lengkap, bisa baca di https://en.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator)

Tahun 2007 aku mengambil sertifikasi trainer MBTI. Terus terang, waktu aku ikut kelas tersebut, aku gak tahu apa itu MBTI, apa manfaatnya, bisa diaplikasikan untuk apa, dsb. Aku hadir di sana hanya karena direkomendasi oleh salah satu mentorku yang mengatakan bahwa program ini bagus.

Hasilnya? Aku jadi mengerti aku masuk tipe apa. Sebatas itu saja. Karena program yang aku ambil adalah sertifikasi trainer, aku juga dibekali sejumlah tools yang bisa aku pakai kalau-kalau aku mau membuka kelas training berbasis MBTI. Tetapi apakah aku melakukannya? Jelas TIDAK, karena waktu itu aku masih sangat introvert. Semua tools yang aku dapat hanya tersimpan rapi di arsip komputerku.

Seiring waktu, kala interaksiku dengan orang semakin intens, aku pun menyadari sangat penting bagiku untuk mengenal diriku sendiri sebelum aku memahami orang lain. Eksplorasiku lebih lanjut mengatakan MBTI adalah tools yang ampuh. Dengan tahu benar kita memiliki kecenderungan apa, kita bisa bertindak dengan proper. Tantangannya adalah kita kemampuan kita untuk beradaptasi sesuai dengan tuntutan lingkungan/pekerjaan. Dan kisahku di atas adalah salah satu contoh adaptasi yang berhasil.

Tentu masih banyak manfaat lain dari memahami MBTI. Dan introvert-ekstrovert hanya 1 dimensi dari 4 dimensi dalam MBTI. Jadi PRku adalah menuturkan 3 dimensi lainnya.

Sebagai penutup, apakah ada di antara kawan yang mau menceritakan pengalaman serupa? Share ya.

Yaksip!
bun.hendri@gmail.com
@hendribun
www.hendribun.com

Tuesday, September 15, 2015

Belajar Berenang Saat Kepala 3? Its Possible!

Salah satu hal yang mungkin tidak banyak orang tahu tentang aku adalah aku baru bisa berenang saat usiaku menginjak kepala 3. Ups ... aku baru saja membeberkan satu rahasia tentang diriku hehehe. Meskipun aku lahir dan besar di kampung yang notebene banyak airnya (baca: sungai), aku tidak bisa berenang. Dan ketidakbisaanku ini aku pelihara sampai desawa.

Lantas, bagaimana ceritanya akhirnya aku bisa berenang? Sederhana saja. Semuanya berawal saat anak pertamaku menginjak usia Balita.

Layaknya kesukaan para bocah, mereka selalu punya ketertarikan yang besar akan air yang menggenang (baca: kolam renang). Awalnya aku tidak terusik dengan nir-dayaku berenang saat menemani anakku ke kolam renang. Aku masih bisa menikmati ikut nyemplung di kolam anak-anak sambil menggendong dan menemani anaku di sana. Tetapi lama-lama, ketika anakku mulai bosan di habitatnya dan pengen terjun ke kolam orang dewasa, aku baru sadar. Ditambah dengan perasaan 'orang lain melihat' (kegeeranku saja) aku yang tiap kali aku nyemplung hanya bisa jalan di kolam sambil sesekali 'pamer' meluncur -selebihnya langsung gaya batu-. Akupun MEMUTUSKAN ... belajar berenang.

Apakah mudah? Tidak. Kesulitan terbesarku adalah karena aku sudah punya rekam dan keyakinan bahwa aku tidak bisa berenang. Itu mental block utama. Jadi pelajaran pertamaku dalam hal belajar berenang adalah mematahkan hal itu. Selebihnya hal-hal teknis seperti belajar mengapung, menggerakkan kaki di air supaya tidak tenggelam, menyelaraskan gerakan tangan dan kaki, mengatur nafas ... adalah keterampilan yang pelan tapi pasti bisa dipelajari.

Puncaknya adalah ketika aku akhirnya berhasil meyakinkan diriku bahwa aku bisa berenang. Di situlah aku merasakan 'keajaiban'. Pelan-pelan aku mengapung, sedikit demi sedikit bergerak maju ... sampai suatu titik aku kagum dan bangga sama diriku bahwa aku bisa bolak-balik mengitari kolam renang.

Perlu waktu berapa lama aku untuk bisa berenang? Ternyata tidak lama. Ketika sudah tahu caranya, dengan cepat otakku belajar. Seingatku hanya perlu waktu 2 minggu -dengan latihan intens tentunya- aku bisa berenang. Gaya yang dikuasai: kodok :)

* * *

Sebuah konsep BELAJAR yang aku dapatkan dari Andrias Harefa dalam bukunya yang berjudul "Mindset Therapy: Terapi Pola Pikir" adalah Learn-Relearn-Unlearn.

Kata LEARN lebih tepat digunakan dalam proses pembelajaran anak-anak. Proses mendapatkan, memperoleh, mengumpulkan informasi, pengetahuan dan keterampilan, dan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai hidup yang relatif baru. Belajar dalam arti UNLEARN adalah meninggalkan, melepaskan, mencopot, atau membuang pelajaran-pelajaran yang ternyata tidak benar, tidak baik, tidak berguna, tidak mendatangkan manfaat, kurang komplit, kadaluarsa, dan ketinggalan zaman. Sedangkan belajar dalam arti RELEARN yakni memperbaiki pengetahuan yang salah, meningkatkan keterampilan yang kurang, meluruskan pemahaman yang keliru, mengadopsi nilai-nilai baru yang lebih dekat dengan kebenaran, dan seterusnya.

Ribet dengan penjelasan di atas? Kalau iya aku coba hubungkan pengalaman berenangku dengan konsep itu.

Aku sejak kecil sampai dewasa LEARN bahwa berenang itu hal yang susah. Dan hasil LEARNku adalah aku tidak bisa berenang. Sampai aku ketemu pemicunya. di mana aku harus banyak menemani anakku saat berenang, aku dipaksa untuk melakukan UNLEARN. Aku membuang keyakinanku bahwa berenang itu susah -aku memaknainya dengan menghancurkan mental block-ku mengenai berenang-. Setelah proses itu selesai, aku melakukan RELEARN dengan memasukkan hal baru bahwa berenang itu banyak manfaatnya sampai menambah keterampilan teknis berenang.

Acceptable-kah pengalamanku dengan konsep ini?

Banyak sekali pengalamanku yang lain -baik di keluarga, dunia kerja, sosial- yang sadar tidak sadar melewati konsep ini. Dan saya yakin teman-teman juga ada pengalaman serupa. Mau share untuk itu?
~
bun.hendri@gmail.com
@hendribun
www.hendribun.com

Monday, November 24, 2014

Pamali

Sedang membantu menyapu rumah. Saat sapuan mendekat pintu depan, istri langsung ambil alih sapu kemudian balikkan arah sapuan ke dalam rumah.

Aku : Lho, ngapain sapu ke dalam?
Istri : Kalau malam-malam sapu gak boleh ke depan. Ntar rejekinya ikut kesapu ...'

* * *

Aku percaya, mayoritas teman yang membaca kisah singat di atas akan tertawa -paling tidak tersenyum- sambil mengaku pernah menjadi 'korban' nasehat serupa. Paling tidak begitulah pengakuan sebagian temanku waktu aku melontarkan hal ini sebagai status. Nasehat yang terkenal ampuh untuk membuat kita 'diam' dan 'taat' waktu kecil karena di dalamnya terdapat unsur dan maksud untuk menakut-nakuti. Belakangan setelah kita dewasa kita mengenalnya sebagai nasehat pamali, yang kalau kita analisa dengan nalar ada maksud logis di balik nasehat tersebut.

Sebagai contoh. Nasehat yang mengatakan kita tidak boleh menyapu keluar di malam hari karena rejeki akan keluar juga. Kemungkinan maksud nasehat ini dilatarbelakangi kondisi jaman dulu yang tidak semewah sekarang dalam hal penerangan. Dulu sumber penerangan utama adalah api seperti petromaks, lilin, dan sejenisnya. Tidak seperti sekarang yang sudah serba listrik. Jadi hemat saya nasehat ini ada karena hari sudah malam, suasana gelap, dan supaya tidak ada barang berharga yang tersapu, makanya kalau menyapu sebaiknya ke dalam.

Penjelasan nasehat lain : anak perempuan tidak boleh bangun siang karena akan berat jodoh. Memangnya benar ada hubungan langsung antara bangun siang sama jodoh? Pastilah tidak ada. Jadi apa penjelasan logisnya? Kemungkinan ini. Anak perempuan jaman dulu selalu identik dengan suasana dapur dan pekerjaan rumah tangga. Jadi kehadirnya anak perempuan diharapkan bisa meringankan beban seorang ibu dalam mengelola pekerjaan rumah. Sehingga tidak heran para ibu akan 'cerewet' kalau anak perempuan mereka bangun telat. Bisa-bisa proses kaderisasi mandeg. Nah, untuk mengantisipasi hal itulah makanya nasehat ini dihembus-hembuskan.

Ada juga nasehat supaya jangan memotong kuku waktu malam, karena akan datang hantu kuku menangkap dan memotong kita. Pernah dengar nasehat ini? Kalau iya berbahagialah hehe ... Lantas apa alasan logisnya? Kira-kira begini. Karena hari sudah malam, riskan kalau potong kuku. Salah-salah malah jari kita berdarah karena salah potong. Selain itu karena hari sudah malam, kita cenderung mendekatkan mata ke guntingan supaya terlihat lebih jelas. Resikonya adalah takut kalau guntingan kuku itu tidak sengaja masuk ke mata kita

Jadi ... kenapa orangtua kita jaman dulu memberikan nasehat penuh mitos tersebut? Belum ada penjelasan secara resmi. Tetap menurutku ada 2 kemungkinan.

Pertama, ilmu parenting jaman dulu pastilah tidak secanggih sekarang. Buku-buku tentang parenting juga belum banyak. Keleluasan untuk mengakses informasi tentang parenting juga tidak sedahsyat sekarang. Karena belum banyak ilmu tentang parenting, maka cara terbaik supaya anak taat kepada orangtuanya adalah dengan 'menakut-nakuti' mereka dengan sejumlah pamali.

Alasan kedua adalah karena ajaran turun-temurun. Ada teori mengatakan bahwa seseorang cenderung mengajarkan sesuatu berdasarkan referensi yang mereka terima. Kaitannya dengan nasehat pamali? Jelas. Orangtua kita mendapatkan ajaran seperti ini dari orangtua mereka. Dan bisa dipastikan dengan referensi yang mereka terima mereka akan mengajarkan hal yang sama untuk anak-anak mereka juga.

Oklah. Kita sudah menjadi 'korban' nasehat demikian. Terimalah itu. Hemat saya, yang menjadi tugas kita sekarang adalah memutuskan nasehat-nasehat pamali tersebut dan menggantinya dengan penjelasan-penjelasan yang masuk akal. Harapan lebih lanjut anak-anak kita akan mengajarkan hal yang 'benar' juga untuk anak-anak mereka. Setuju? Yaksip.

Friday, November 07, 2014

Mau Lancar Menulis? Coba yang Satu Ini ...

Salah satu anjuran yang bisa diberikan kepada teman-teman yang mau memperlancar menulis, menuangkan ide di kepala menjadi tulisan, membangun kebiasaan menulis adalah menulis tanpa berhenti selama 20 menit. maksud anjuran ini adalah kita sengaja menyiapkan waktu sevcara khusus selama 20 menit untuk menulis. apa saja yang ada dikepala dituangkan saja. misalnya pengalaman pagi waktu berangkat kerja, cerita kemarin gak bisa tidur, curhat ynang tidak terungkapkan, dan lain-lain. pokoknya apa yang ada dikepala dikeluarkan saja.

Anuran ini juga mengatakan selama kita menulis selama 20 menit, jangan kuatir akan salah ketik, logika yang berantakan, tidak boleh tergoda menghapus atau menekan back space kalau kita merasa ketikan kita salah. apalgi stop menulis dan membaca ulang apa yang kita tuliskan, kemudian mengeditnya. itu melanggar ajnjuran ini. secara ekstrim kita sering ngomong menulis model ini yang paling efektif adalah menutup layar monitor, dan menulis. apapun yang inign dituliskan, tulislah. kalau misalnya pikiran mandeg, rus gak tahu mau tulis apa, ketik aja. mandeg nih, gak tahu mau tulis apa nih. tulis saja. kaena latihan ini diyakini mampu membuat kita terbiasa menuangkan apa yang ada dipikiran kita menjadi tulisan. Dan kalau dilakukan setiap hari selama paling tidak 40hari, maka akan muncul kebiasaan dan ketagihan dalam diri kita untuk menulis setiap hari.

seperti tulisan yng sedang teman-teman baca. say sedang ncoba mempraktikkan menulis selama 20mmenit tnapa bernhenti. bisa dilihatkan, ejaan yang salah, tulisan yang berantkan, termasuk loigka yang keliru ada di utlisan ini. sudah 5 menit saya mnsulis. dan kira-kira teman-temab bisa membaca dan mengeti gak apa yang indin saya tuliskan? selama menuliskan, saya sangat tergda untuk menekan bck space. tergoda juga untuk membaca atau menatap layar, mengoreksi tulisan yang salah. tetapi saya mau komit mempraktiikan cara ini supaya teman-teman mendapatkan sense dan mau mencoba juga mneulis dngan model ini.

menulis selama 20 menit selain membantu mempermancar kita menulis, juga diyakinin bisa sebagai terapi menulis. ya, menulis itu dilihat sebagai cara lain kita mengungkapkan peransaa. selama ini kita tahu bahwa menuangkan perasana habya bisa dilakukan engan berkata-kata. atau ada juga yang menuangkannya dalam bentuk pelampiansa seperti teriak dal. tetapi menuangkan perasaan dalam bentuk menulis diyakini juga cara ampuh untuk merelase tress. writing therapy, itu istilahnya. banyak manfaat, slain memperlancar menulis, juga nisa relase stress dengan cara murah meriah. daripada kita membayar psikater, atau membuat sesuatu yang berbahaya, enakanam enuangkannya dalam bentuk tulisan bukan? perasaan pong, puas, dan kita sehat secara jsemani.

teknik menulis cepat selama 20 menit tanpa henti ini sering kita pakai untuk memotivasi peserta pelatihan di kelas menuis kami supaya blocking mindset mereka akan menulis terbuka. Dan banyak tstimoni yang sudah kami dapatkan. msebut saja salah satu peserta, yang tiap hari ke kantor kepagian karena menghindari mcet. salam ini dia menghabiskan waktu dengan istirahat, baca-nabaca, dll. setelah mengethaui teknik ini, dia mengambil komtmen untuk tiap pagi menulis selama 20 menit. hasilnya? dari kebiasaan ini ia bisa membuat 2 buku. awalnya tulisan-tulisan yang dia buat tidak beguna. setealh ditulis bsia discae atau dlete begitu saja. tetapi setelah meleati sejumlah hari, 40 hari, kebiasan tesebut terbentuk. setlah itulah kita muai mengasah kmutu menulis kita. mulai rapi, dan mulai berpikir sistematis apa yng akan ktia tulis. menarik bukan?

sudah hampir 10 mnit saya mencoba menulis dengan cara ini. so far saya sudah mencurangi diri sendiri mdengan menekan nackspace selama 4 kali, hahaha. tidak mudah memang, terutama kalau ktai sadar bahwa kita salah keti. tetapi teori mengatakann menulis cpart ini bagus untuk kita membekukan ide kita. ide itu dilihat sebagai seperti angin, yang akan hilang begitu cepat kalau tidak kita angkan menjadi tulisan. dan menulis cepat untuk awalnya hsalnya tidak rapi. tetapi akan ada step lanjutan yaaitu editin. saatitulah kita merapikan apa yng sudah kita tulis menjadi tulisan yng rapi.

bagaimana kalau ada data atau riset yang ingin kita masukkan dan ingin kita inset dalam tulisan? hindari bernhenti menulis lalu mencari data dan menginsertnya. krena degnan melakukannya, kita akan ehilangan fokus dan state menulis. jadi kala uada data yng ingin dimasukkan, tulisan saja ...cari data di ..., seelah selesai baru kita cari dan masukkan. intiny selama latihan menulis 20 menit ini kitajangan berhenti untuk mengetik, ekstrimnya, jari kita tidak terangkat dati papan kenoadr, dan tulis saja.

wuih.. sudah berapa menit ya. ups, sudah 15 menit berarti masih ada waktu 5 menitu nuntk menulis lagi. ok, saat ini saya sedang di urang traiing, sedang break menemani paj Andrias dalam pelatihan leadership untuk tmanteman cputra. sekarnag lunch break, karena juamtan, waktu bia lebih panjang. jadinya saya da waktu untuk menulis seperti ini. seruis? ya. saya menlaukan karena saya ingin memberikan contoh bahwa menulisselama 20 menit itu sangt bisa. kalau saya habismenulsi ini menemukan banyak selaku kesalahan ketik, dan juga kalimat yang belrulang-ulang, nah barusan saya salah bukan, saya sangat mengyadarinya. tetapi saya akan berhenti saat werk yang saya pasnag bernunyoi. 20menit saya akan menulis. apek juga ya. tetapi demi tulisn yang fenomenal ini sayabertekad menulis  menit lagi. kalau kehabisan ide, mau tulis apa lagi?

oh ya, nesok wiken, itu waktu yang ditunggu teman-teman bukan? udah ah, dari pada membahas wiken, lebih bbaik kembali ke fokus tulisan ini. menulsi 20 menit ini pantas untuk dirpaktikkan. manfaatnya ada beberapa, (1) membangun kebiasaan menulis, (2) memperlancar kita menuangkan ide dik epala menjadi tulisan, (3) sebagai writing therapy (4) apa lagi ya. hehehe. gak ketemu. wah, tinggal 1 menit lagi. ok saya selesaikan dulu tulisan ini. saya emnulis di notepad, jadi jangan heran kalau tiap habis kalimat yang ada titik, huruf pertaman tidak menjadi kapital. setelah ini saya akan mengcopy ke word, dan menghitung jumlah katanya. seharusnya sih lebih dari 600 kata, yang artinya kalau lebih saya sudah menulis sepanjang 1 artikel opini harian kompas. Ok deh, weker berbunyi.

Salam Proaktif!
- Hendri Bun
www.hendribun.com

Saturday, November 01, 2014

500 Game : Dinamika Kelompok, Aktivitas Luar dan Dalam Ruang untuk Membangun dan Membentuk Tim yang Solid


Secara natur (alamiah), manusia adalah mahluk bermain. Begitulah diungkapkan Johan Huizinga dalam bukunya yang berjudul "Homo Ludens" atau "Man the Player" di tahun 1938. Menurutnya, bermain adalah penting dan perlu bagi peradaban manusia.

Untuk membuktikan teorinya, Johan Huizinga mengajak kita melihat pada anak-anak. Sepanjang hari, dari mata mulai melek (terbuka) saat bangun tidur sampai mata terpejam saat tidur, kegiatan dominan yang dilakukan oleh anak-anak adalah bermain. Pada saat hendak atau sedang mandi, mereka menyisipkan kegiatan bermain. Demikian pula saat berpakaian, ada selingan bermain. Saat makan? Ya sambil bermain. Hingga saat ‘pup’ pun sering kali diselingi dengan aktivitas bermain.

Sayangnya natur ini secara perlahan namun pasti, kian terkikis seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Jadi, tidak heran bila kita jarang melihat orang dewasa bermain layaknya anak-anak. Beberapa hal yang sering kali diungkapkan sebagai alasan:
- orang dewasa itu harus serius, jadi tidak pantas lagi bermain
- ada rasa malu, risih, enggan, atau takut dikatai sebagai anak kecil
- bermain dianggap sebagai kegiatan yang sia-sia
- dll

Padahal banyak menfaat yang bisa kita peroleh dari aktivitas bermain, misalnya menjalin keakraban dan membangun tim yang solid, sembari melemaskan otot dan merilekskan otak. Selain itu, bermain juga dapat menjadi kesempatan untuk mencari keringat bagi orang dewasa yang jarang berolahraga dan bagi anak-anak masa kini yang hidupnya dikuasai oleh gawai (gadget).

Bermain juga sering kali menjadi salah satu kegiatan penting dalam pertemuan-pertemuan informal, semiformal, atau sejenis acara outbound. Di tengah seminar, pelatihan, atau workshop misalnya. Juga bisa di arisan ibu-ibu PKK, pertemuan RT-RW, tujuh-belasan, sampai acara-acara di sekolah atau kampus. Tujuannya jelas, untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan serta membangun semangat dan tim agar suasana pertemuan lebih segar, akrab, dan kerjasama kian solid.

Untuk mengupayakan hal tersebut di atas, kendala yang sering timbul adalah miskinnya ide atau variasi permainan. Akibatnya timbul rasa bosan yang berujung pada tidak tercapai tujuan semula. Untuk menjawab kebutuhan itulah buku ini dihadirkan. Dikumpulkan dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi sebagai pengelola lembaga pelatihan, sebanyak 505 permainan disajikan di dalam buku ini. Penyusun membaginya menjadi empat bagian besar: perkenalan, energizer, perlombaan, dan leteral.

Harapan atas buku ini sederhana saja, agar bermanfaat untuk memeriahkan suasana, menambah keceriaan, membangkitkan motivasi, memperkuat kerja sama tim, serta meningkatkan jumlah keringat dan menumbuhkan kembali natur kita sebagai manusia makhluk bermain.

Demikian, semoga berkenan.

-Penyusun